Kesyahidan Ayatullah Ali Khamenei: Miskalkulasi Strategi AS-Israel

Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Tehran pada 28 Februari 2026, menyebabkan kesyahidan Ayatullah Ali Khamenei, pejabat senior, dan beberapa jenderal pucuk pimpinan angkatan bersenjata Iran. Tidak ada yang menyangka bahwa dalam memulai perang kali ini, AS dan Israel nekat melakukan serangan langsung kepada pucuk kepemimpinan Iran. AS-Israel berharap dengan tereliminasinya “center of gravity” Iran, situasi politik Iran akan berubah dan akan berpihak kepada AS dan Israel. AS-Israel berharap akan timbul gerakan massa yang bergerak meruntuhkan rezim Islam di Iran. Karena itu, setelah serangan tersebut, baik Donald Trump maupun Benjamin Netanyahu mendorong aksi massa di Iran menuntut perubahan rezim. Trump menyatakan bahwa sekarang adalah kesempatan bagi rakyat Iran untuk mengambil alih negara mereka dari rezim Ayatullah. Netanyahu berpidato agar rakyat Iran turun ke jalan untuk menggulingkan rezim ayatullah yang telah membuat rakyat Iran menderita selama beberapa dekade. AS dan Israel pun berkalkulasi bahwa balasan militer Iran terhadap AS-Israel tersebut hanya berjalan singkat. Selanjutnya, Garda Revolusi, tentara nasional, dan polisi Iran akan menyerah, meletakkan senjata, dan berdiri bersama rakyat Iran mengambil alih negara dari rezim Ayatullah.

Miskalkulasi Trump dan Netanyahu

Logika Trump dan Netanyahu jelas kacau. Memang benar bahwa setelah kesyahidan Ayatullah Ali Khamenei, jutaan warga Iran turun ke jalan dan melakukan demonstrasi. Namun, apa yang dituntut rakyat Iran adalah ”matilah Amerika” dan “matilah Israel.” Jutaan rakyat Iran mendorong pembalasan atas kesyahidan Ayatullah Ali Khamenei. Mereka mendukung langkah angkatan bersenjata Iran untuk menyerang objek-objek AS dan Israel di kawasan Timur Tengah. Angkatan bersenjata Iran pun secara intens menyerang objek-objek AS dan Israel, alih-alih menyerah dan meletakkan senjata sebagaimana imajinasi Trump. Karena itu, tujuan serangan AS-Israel seperti aksi massa mengganti rezim dan pembelotan angkatan bersenjata Iran hanya ilusi belaka.

Ayatullah Ali Khamenei bukan orang semacam pimpinan kelompok ekstremis seperti Abu Bakar al-Baghdadi ataupun Usamah bin Laden. Karena itu, AS tidak dapat mengulang pola serangan asasinasi sebagaimana yang pernah dilakukan AS terhadap individu-individu pimpinan kelompok ekstremis tersebut. Dalam kasus kelompok ekstremis, kematian pemimpin akibat serangan militer memang berkontribusi pada melemahnya kapasitas organisasi setelah kehilangan figur sentralnya. Sebaliknya, Ayatullah Ali Khamenei adalah pimpinan sebuah negara besar di kawasan, yang ketika dibunuh secara brutal oleh musuhnya, justru memantik kemarahan serta tuntutan pembalasan dari rakyat yang dipimpinnya. Ayatullah Ali Khamenei juga bukan pimpinan negara yang dipersepsikan sebagai figur otoriter semacam Saddam Hussein. Ketika Saddam Hussein digulingkan oleh pasukan AS, rakyat Irak bersorak merayakannya karena menganggap berakhirnya kekuasaan rezim represif penindas rakyat Irak selama beberapa dekade. Sebaliknya, Ayatullah Ali Khamenei adalah figur pemimpin kharismatik dengan pendukung ideologis yang kuat baik di Iran maupun di luar Iran.

Lebih penting lagi, posisi Ayatullah Ali Khamenei tidak dapat disamakan dengan kepemimpinan negara pada umumnya. Pasalnya, Ayatullah Ali Khamenei adalah pimpinan dalam sistem Wilayatul Faqih yang memadukan otoritas agama dan kepemimpinan negara. Dalam sistem ini, pemimpinnya tidak hanya memiliki arti secara politis, tetapi juga memiliki aspek spiritual yang kuat. Rujukan paling umum dalam memahami ini adalah konstitusi Iran. Dalam Pasal 5 konstitusi Iran dinyatakan,

”Selama masa kegaiban Wali al-‘Asr (semoga Allah mempercepat kemunculannya kembali), wilayah dan kepemimpinan umat berada di tangan seorang faqih yang adil (‘adil) dan bertakwa (muttaqi), yang memahami sepenuhnya kondisi zamannya, memiliki keberanian, kecakapan, serta kemampuan administratif; ia akan memikul tanggung jawab kepemimpinan tersebut sesuai dengan Pasal 107.”

Pasal tersebut tidak terlepas dari konteks doktrin teologis yang dianut Republik Islam Iran. Dalam keyakinan Syiah Imamiyah, Imam Mahdi as telah lahir dan mengalami fase kegaiban sejak abad 9 Masehi. Imam Mahdi akan muncul kembali di akhir zaman. Dalam konteks kegaiban tersebut, ketika Imam Mahdi tidak hadir secara fisik, kepemimpinan umat dijalankan oleh faqih yang adil, kompeten, dan memiliki kapabilitas kepemimpinan. Pandangan ini kemudian menjadi landasan dalam Wilayatul Faqih di Republik Islam Iran, yaitu kepemimpinan faqih untuk membimbing umat selama masa kegaiban hingga dikembalikan kepada pemimpin sebenarnya, yaitu Imam Mahdi.

Karena itu, serangan terhadap Ayatullah Ali Khamenei tidak dapat disamakan dengan serangan AS terhadap pimpinan negara lainnya. Serangan terhadap Ayatullah Ali Khamenei bukan hanya dianggap menyerang simbol sebuah negara berdaulat, tetapi juga menyerang simbol kepemimpinan yang berdimensi religius dan transenden.

Sejarah kesyahidan para Imam Ahlul Bait juga membentuk persepsi kolektif rakyat Iran mengenai kemartiran. Sebagai contoh, sebagian publik menganalogikan perlawanan Iran ke kekuatan AS-Israel layaknya perjuangan Imam Husain dan segelintir pengikutnya melawan Yazid bin Muawiyah di Perang Karbala. Contoh lainnya, ketika mengetahui Ayatullah Ali Khamenei syahid diserang AS-Israel, rakyat Iran mengatakan bahwa mereka kehilangan dua orang Ali, yaitu Ali bin Abi Thalib dan Ali Khamenei, yang sama-sama syahid dibunuh oleh musuh-musuh Islam di bulan suci Ramadhan. Kesyahidan figur pimpinan tidak menghilangkan semangat perlawanan, sebaliknya justru memperkuat legitimasi resistensi. Karena itu, keputusan AS-Israel mengeliminasi Ayatullah Ali Khamenei jelas sebuah miskalkulasi strategi. Alih-alih menyebabkan Iran menyerah, kesyahidan Ayatullah Ali Khamenei justru memicu resistensi lebih luas dari unsur pimpinan, angkatan bersenjata, dan rakyat Iran.

Ayatullah Mujtaba Khamenei

Iran telah memilih Rahbar yang baru. Ayatullah Mujtaba Khamenei, putra dari Ayatullah Ali Khamenei, resmi diumumkan sebagai Rahbar bertepatan dengan peringatan malam Lailatul Qadar. Sebagian publik di media sosial menganalogikan pergantian kepemimpinan ini dengan pergantian kepemimpinan dari Imam Ali bin Abi Thalib ke Imam Hasan al-Mujtaba. Kini patut ditunggu bagaimana arah Iran di bawah kepemimpinan yang baru. Beberapa analis memperkirakan, bahwa di bawah kepemimpinan Ayatullah Mujtaba Khamenei, Iran akan melanjutkan dan mempertajam resistensinya. Beberapa analis juga menyatakan bahwa Ayatullah Mujtaba Khamenei disebut-sebut ”lebih keras” dari ayahnya. Yang jelas, serangan Trump dan Netanyahu memang berhasil mengganti kepemimpinan di Iran. Namun, pergantian tersebut hanya mengganti Khamenei senior ke Khamenei yang baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *