Yogyakarta, 4 Oktober 2024 – Insiera, Asosiasi Studi Islam dan Hubungan Internasional Indonesia, menggelar Focus Group Discussion (FGD) pada Sabtu pagi, 4 Oktober 2024. Acara yang berlangsung dari pukul 09.30 hingga 11.00 WIB ini menghadirkan Hasbi Aswar sebagai pemantik diskusi. Forum ini membahas secara kritis pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum PBB tanggal 26 September 2025, yang menyinggung isu Palestina dan Israel.
Dalam pengantarnya, Hasbi Aswar memunculkan empat pertanyaan utama untuk menggugah peserta. Pertama, mengapa terjadi perubahan diksi sikap Indonesia terhadap Palestina di forum global. Kedua, kepentingan apa yang sesungguhnya berada di balik perubahan sikap tersebut. Ketiga, bagaimana seharusnya sikap yang diambil oleh pemerintah Indonesia. Keempat, sejauh mana peran masyarakat sipil, termasuk akademisi, dapat ikut menentukan arah narasi. Empat pertanyaan ini menjadi fondasi diskusi yang berlangsung hangat dan kritis.

Tanggapan peserta FGD pun beragam. Willi Ashadi menilai pidato Prabowo tidak sepenuhnya merepresentasikan sikap tradisional Indonesia terhadap Palestina, melainkan lebih terkait dengan kepentingan ekonomi. Baginya, pergeseran diksi yang muncul dalam forum internasional mengindikasikan adanya kesepakatan atau deal ekonomi tertentu yang menjadi pertimbangan utama.
Sementara itu, Renny Miryanto menyampaikan keprihatinan. Ia mengapresiasi kehadiran Presiden di forum internasional, namun menilai adanya ketidaksetaraan narasi. Pidato itu, menurutnya, seakan mengakui penderitaan rakyat Palestina tetapi sekaligus melindungi Israel. Kondisi ini berbahaya karena bisa memengaruhi cara dunia memandang Indonesia. Di tingkat nasional, ia menegaskan, pernyataan tersebut dapat menimbulkan fragmentasi, di mana muncul kelompok pro-Palestina, kelompok yang bersikap biasa saja, dan kelompok pro-Israel. Renny juga melihat pidato itu bukan sekadar “slip of tongue”, melainkan sejalan dengan rencana pemerintah menerima pengungsi Gaza. Dalam konteks akademisi, ia mendorong agar para ilmuwan tetap konsisten menyuarakan keberpihakan pada Palestina.
Unis Sagena menilai bahwa pidato Prabowo lebih sebagai langkah politik personal. Menurutnya, pernyataan tersebut dilakukan untuk mencari perhatian (caper) di level global, bukan sekadar bagian dari kebijakan luar negeri yang konsisten.
Adapun Musa Maliki melihat perubahan diksi dalam pidato itu kemungkinan sikap pribadi presiden bukan berdasarkan naskah pidato yang sudah dibua. Hal ini, menurutnya, menunjukkan adanya arah politik baru yang tidak melalui jalur diplomasi formal, dan justru menimbulkan pertanyaan besar tentang konsistensi politik luar negeri Indonesia ke depan.

FGD ini kemudian ditutup dengan kesepakatan bahwa Insiera, bersama akademisi dan masyarakat sipil, harus terus konsisten menjaga dukungan terhadap Palestina. Forum ini menegaskan perlunya membangun narasi alternatif yang objektif dan kritis, yang tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan. Insiera juga mendorong agar isu Palestina terus diperjuangkan, bukan hanya di level politik praktis, tetapi juga di ranah akademik, advokasi publik, dan gerakan masyarakat sipil.