+62 81 228 25 8889 insiera.indonesia@gmail.com
Khilafah: Tata Kelola Dunia yang Manusiawi nan Dibutuhkan

Khilafah: Tata Kelola Dunia yang Manusiawi nan Dibutuhkan

Penulis: Siti Muslikhati (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) Editor: M. Qobidl ‘A. Arif Pendahuluan Revolusi Pemikiran untuk mewujudkan tata dunia modern dimulai sejak disepakatinya Perjanjian Westphalia pada tahun 1648 M. Perjanjian itu mengusung tiga konsep kunci, yang menjadi ciri dari “kemodernan,” yaitu sekularisme, kedaulatan manusia  dan nation-state. Negara-negara Eropa (terutama Inggris dan Perancis) menindaklanjuti revolusi ini dengan revolusi-revolusi lainnya seabad berikutnya. Inggris berhasil melakukan Revolusi Industri, yang melahirkan kekuatan politik baru di luar kelompok bangsawan. Sementara Perancis melakukan revolusi perlawanan terhadap otoritarianisme penguasa dengan menggulirkan tiga slogan berupa liberty, egality dan fraternity. Bangkitnya kekuatan Eropa ini menemukan momentumnya pada awal abad ke-20, dimana terjadi perubahan konkrit tata dunia di panggung internasional. Kesultanan Utsmaniyah, sebagai representasi kekuatan politik Islam, runtuh dan negara-negara Imperialis Eropa makin leluasa menancapkan pengaruhnya di dunia Islam, sekaligus mengokohkan dominasinya atas dunia. Di era global ini, ada anggapan kuat bahwa hanya dengan tata dunia yang sekular dan liberal dunia akan menikmati kesuksesan di berbagai bidang. Tulisan ini mencoba untuk mengevaluasi kebenaran dari asumsi itu dengan menunjukkan bagaimana dampak beroperasinya tata dunia modern terhadap terpenuhinya nilai-nilai kemanusiaan secara utuh dan menyeluruh  sekaligus menawarkan paradigma baru dalam upaya merealisasikan tujuan “mulia” kehidupan bersama, yaitu terpenuhinya keseluruhan kebutuhan asasiyah kemanusiaan berupa kesejahteraan, kestabilan, keamanan dan keberpengaruhan dalam skala global. Fenomena Dehumanisasi dalam Tata Dunia “Modern” Humanisasi adalah proses menumbuhkan rasa perikemanusiaan, proses menjadikan manusia sesuai dengan kodrat-kodrat kemanusiaannya. Secara alamiah, manusia dilahirkan dengan potensi kehidupan dan fitrah (kodrat) yang sama, berupa kebutuhan fisik dan naluri. Semua manusia mempunyai kebutuhan fisik yang sama akan makanan, minuman, oksigen, pakaian dan lain-lain. Manusia juga mempunyai naluri yang sama untuk beragama, bereproduksi dan mempertahankan diri. [1] Perbuatan yang dilakukan manusia...