+62 81 228 25 8889 insiera.indonesia@gmail.com
Pertemuan Insiera Berlanjut di UNIDA Gontor

Pertemuan Insiera Berlanjut di UNIDA Gontor

PONOROGO, INSIERA – Setelah terbentuk pada 12 Februari 2016 yang lalu di Yogyakarta, Insiera kembali menyelenggarakan pertemuan antar anggota pada hari Ahad 4 September 2016 yang bertempat di kampus Siman, Universitas Darussalam Gontor Ponorogo. Hadir pada pertemuan tersebut para akademisi hubungan internasional muslim dari UII Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, UIN Sunan Ampel Surabaya, dan dari tuan rumah sendiri. Pertemuan terasa spesial dengan hadirnya cendekiawan muslim nasional yang juga Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Hamid Fahmi Zarkasyi, Ph.D. Pada kesempatan tersebut, Ustadz Hamid banyak membincangkan mengenai Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Menurut beliau, Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer adalah membebaskan ilmu pengetahuan Barat kontemporer dari hal-hal yang tidak Islami atau dengan memasukkan unsur-unsur Islam dalam ilmu pengetahuan kontemporer. Meski diakui bahwa terma Islamisasi masih kurang dapat diterima di Indonesia, bahwa masih terdapat perbedaan pendapat penamaan antara fakultas sains dan Islam atau agama, dan seterusnya, namun perlu disadari bahwa ajaran Islam haruslah dapat diajarkan dan diamalkan dalam seluruh sendi kehidupan, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan. Dalam bidang ilmu hubungan internasional, Ustadz Hamid mengajak berpikir ulang mengenai terma internasional. Dalam perspektif Islam, negara merupakan keseluruhan institusi politik di level dunia. Al Qur’an menyebut istilah berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, bukan bernegara-negara. Dengan demikian, terma internasional perlu diredefinisi dalam konteks kajian Islam. Pertemuan berlangsung dengan format diskusi terarah dan seluruh peserta aktif menyampaikan pendapatnya. Dari diskusi yang berlangsung, dapat diidentifikasi beberapa problema, antara lain: persepsi terhadap proyek Islamisasi yang masih kurang diterima di Indonesia, penerimaan lembaga yang masih minim terhadap wacana perspektif Islam, belum adanya standar kurikulum untuk kajian Islam dalam HI, akademisi kalah cepat dengan media sedangkan media dijadikan referensi dari isu kontemporer yang...