+62 81 228 25 8889 insiera.indonesia@gmail.com

Kongres Nasional I Insiera Sukses Terselenggara di UII Yogyakarta

YOGYAKARTA, INSIERA – Dengan mengucap syukur alhamdulillah, pada hari Kamis 15 Desember 2016, The Indonesian Islamic Studies and International Relations Association (Insiera) telah menyelenggarakan Kongres Nasional I dengan lancar dan sukses. Kongres yang berlangsung di Ruang Audio Visual Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial, Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, merupakan kelanjutan dari dua pertemuan sebelumnya, yakni pada 12 Februari 2016 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan 4 September 2016 di Universitas Darussalam (Unida), Ponorogo. Menurut sekretaris pengurus pusat Insiera, M. Qobidl ‘Ainul Arif, semangat peserta dalam bergabung dengan Insiera dilandasi oleh ukhuwah Islamiyyah, berdakwah, bersedekah dan berjihad. Beliau menambahkan semangat tersebut tampak dari komitmen peserta yang datang dari berbagai daerah, seperti: Jakarta, Surabaya dan Bali dengan menggunakan biaya pribadi. Acara kongres sendiri dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan diawali sambutan Ketua Program Studi Ilmu Hubungan Internasional UII, Irawan Jati, S.IP, M.Hum, M.SS., selaku tuan tuan rumah yang dilanjutkan perkenalan peserta. Kongres Nasional I Insiera memiliki dua agenda utama, yaitu: pembahasan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), pemilihan ketua, dan pembuatan peta jalan (road map) kegiatan strategis yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Terkait AD/ART, terdapat tiga poin penting yang berhasil disepakati. Pertama, disepakatinya visi organisasi, yakni, “Menjadi asosiasi yang mewujudkan peradaban Islam dari disiplin Hubungan Internasional secara profesional dan bereputasi internasional.” Melalui visi ini Insiera hendak berkontribusi secara aktif dalam mewujudkan peradaban Islam dengan menawarkan pemikiran-pemikiran baru di ranah Hubungan Internasional ditinjau dari perspektif Islam. Islamisasi pengetahuan disepakati sebagai instrumen dalam merealisasikan visi tersebut. Kedua, terdapat dua bentuk keanggotaan di dalam Insiera, yakni anggota kehormatan dan anggota biasa. Anggota kehormatan merupakan individu dengan kapasitas tertentu baik dari dalam maupun luar negeri...
Menuju MoU Insiera dengan IIIT Amerika Serikat

Menuju MoU Insiera dengan IIIT Amerika Serikat

PONOROGO, INSIERA – Lembaga penelitian bereputasi internasional asal Amerika Serikat yang didirikan oleh mendiang Professor Ismail Raji Al Faruqi, International Institute of Islamic Thought (IIIT), akan bekerjasama dengan Insiera dalam pendanaan beberapa proyek publikasi. Proposal kerjasama telah diserahkan kepada pihak IIIT dalam kunjungan mereka ke Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) pada hari Senin, 19 September 2016, yang lalu. Proposal tersebut selanjutnya akan didalami dan ditandatangani oleh kedua belah pihak. Rencananya, pada bulan desember nanti, pihak IIIT akan kembali mengadakan lawatan ke UNIDA sekaligus melakukan penandatanganan terhadap MoU antara mereka dengan Insiera. Alhamdulillahi robbil ‘alamin, sambutan IIIT atas keberadaan Insiera sangatlah positif. Semoga rencana kerjasama dan pelaksanaannya nanti dimudahkan oleh Allah ‘Azza Wajalla. Kami memohon dukungan dan bantuan doa dari semua pihak demi kelancaran proyek tersebut.   Reportase: Rudi Chandra Penyunting: M. Qobidl ‘A. Arif...
Pertemuan Insiera Berlanjut di UNIDA Gontor

Pertemuan Insiera Berlanjut di UNIDA Gontor

PONOROGO, INSIERA – Setelah terbentuk pada 12 Februari 2016 yang lalu di Yogyakarta, Insiera kembali menyelenggarakan pertemuan antar anggota pada hari Ahad 4 September 2016 yang bertempat di kampus Siman, Universitas Darussalam Gontor Ponorogo. Hadir pada pertemuan tersebut para akademisi hubungan internasional muslim dari UII Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, UIN Sunan Ampel Surabaya, dan dari tuan rumah sendiri. Pertemuan terasa spesial dengan hadirnya cendekiawan muslim nasional yang juga Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Hamid Fahmi Zarkasyi, Ph.D. Pada kesempatan tersebut, Ustadz Hamid banyak membincangkan mengenai Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Menurut beliau, Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer adalah membebaskan ilmu pengetahuan Barat kontemporer dari hal-hal yang tidak Islami atau dengan memasukkan unsur-unsur Islam dalam ilmu pengetahuan kontemporer. Meski diakui bahwa terma Islamisasi masih kurang dapat diterima di Indonesia, bahwa masih terdapat perbedaan pendapat penamaan antara fakultas sains dan Islam atau agama, dan seterusnya, namun perlu disadari bahwa ajaran Islam haruslah dapat diajarkan dan diamalkan dalam seluruh sendi kehidupan, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan. Dalam bidang ilmu hubungan internasional, Ustadz Hamid mengajak berpikir ulang mengenai terma internasional. Dalam perspektif Islam, negara merupakan keseluruhan institusi politik di level dunia. Al Qur’an menyebut istilah berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, bukan bernegara-negara. Dengan demikian, terma internasional perlu diredefinisi dalam konteks kajian Islam. Pertemuan berlangsung dengan format diskusi terarah dan seluruh peserta aktif menyampaikan pendapatnya. Dari diskusi yang berlangsung, dapat diidentifikasi beberapa problema, antara lain: persepsi terhadap proyek Islamisasi yang masih kurang diterima di Indonesia, penerimaan lembaga yang masih minim terhadap wacana perspektif Islam, belum adanya standar kurikulum untuk kajian Islam dalam HI, akademisi kalah cepat dengan media sedangkan media dijadikan referensi dari isu kontemporer yang...
Lakukan FGD, Akademisi HI dari Tujuh Universitas Islam Bentuk Insiera

Lakukan FGD, Akademisi HI dari Tujuh Universitas Islam Bentuk Insiera

YOGYAKARTA, INSIERA – Para akademisi dari tujuh universitas Islam di Indonesia berkumpul pada hari Jum’at, 12 Februari 2016 di ruang Study Hall Magister Ilmu Politik dan Hubungan Internasional Gedung Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dalam acara tersebut, mereka menggagas berdirinya the Indonesian Islamic Studies and International Relations Association atau Asosiasi Studi Islam dan Hubungan Internasional Indonesia, disingkat Insiera. Berdirinya asosiasi ini dimaksudkan menjadi wadah untuk menghubungkan studi keislaman dan Hubungan Internasional. Sebagaimana sudah mafhum, selama ini kajian Hubungan Internasional dihegemoni oleh pandangan-pandangan Barat. Padahal beberapa Negara seperti India dan China sudah mulai mengembangkan kajian Hubungan Internasional dengan perspektif bukan Barat (non-Western). Dr. Surwandono selaku koordinator asosiasi ini menyampaikan rasa optimis bahwa Insiera akan bisa berkembang layaknya komunitas epistemis lainnya. “Dengan berkumpulnya orang-orang yang punya perhatian terhadap kajian Studi Islam dan Hubungan Internasional, saya yakin kita tidak akan merasa bergerak sendiri dan bisa saling berbagi serta menguatkan satu dengan yang lain,” ujar doktor alumni UGM ini meyakinkan. Dalam kegiatan yang diadakan dengan format diskusi terarah (focus group discussion) tersebut, juga disepakati bahwa Insiera merupakan asosiasi yang bersifat inklusif yang siap menaungi siapapun yang tertarik dengan Studi Islam dan Hubungan Internasional. Ketua Prodi Magister Ilmu Politik dan Hubungan Internasional UMY yang telah menghasilkan banyak karya dalam kajian politik Islam dan isu dunia Islam ini menegaskan bahwa peran Insiera sebagai asosiasi diharapkan bisa memberikan manfaat optimal dalam peningkatan kapasitas keilmuan dan keorganisasian para anggotanya. Meskipun sederhana, acara ini mampu membahas empat agenda penting asosiasi berkaitan dengan nama organisasi, legal standing, program kerja dan jaringan. Acara dimulai pukul 09.00 WIB, diselingi sholat jum’at dan diakhiri tepat ketika waktu sholat ashar tiba. Seluruh peserta bersepakat...